Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islam dalam satu Semester
Assalamualaikum Wr.Wb
Haii👋
Perkenalkan nama saya Risma Fuzilathussholihah,
saya dari prodi Pendidikan Bahasa Arab semester 2, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Di tulisan ini saya akan menceritakan tentang refleksi perkuliahan saya selama satu semester belajar tentang Filsafat Pendidikan Islam.
Dosen Pengampu : Lailatuz Zuriyah, M.Fil.I.
Dalam satu semester ini saya mulai belajar tentang Filsafat Pendidikan Islam, mulai dari apa itu pengertian, konsep , hingga pemikiran tokoh Filsafat Pendidikan Islam di Indonesia dan non Indonesia. Sebanyak 14 materi tentang Filsafat Pendidikan Islam yang sudah saya pelajari di semester ini.
Kalian para pembaca berhak mengetahui apa saja sih pelajaran berharga yang sudah saya dapat setelah belajar tentang Filsafat Pendidikan Islam selama satu semester ini.
Baca sampai habis yaa...!!!
Setelah belajar Filsafat Pendidikan Islam selama satu semester ini saya menjadi tahu bahwa sebenarnya dalam proses belajar, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep teoritis tentang pendidikan, tetapi juga memperoleh pengalaman yang sangat berharga dalam berpikir kritis dan analitis. Mereka belajar bagaimana memahami dan menjelaskan ajaran Islam dalam konteks pendidikan, serta bagaimana filsafat Islam berinteraksi dengan ilmu lainnya.
Dalam mata kuliah ini, saya dan teman-teman satu kelas saya mempelajari tentang dasar-dasar pendidikan Islam, sistem pendidikan Islam, unsur-unsur pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, serta tokoh filsafat pendidikan Islam. Kami juga memahami perbedaan substansial antara filsafat pendidikan Islam dan filsafat pendidikan barat, serta bagaimana filsafat pendidikan Islam memberikan dasar pendidikan yang lebih luas dan lebih dalam.
Mempelajari filsafat pendidikan Islam ternyata juga dapat membantu kita dalam mengembangkan keterampilan berpikir yang lebih kritis dan analitis. Kita belajar bagaimana menganalisis dan memahami kompleksitas konsep-konsep pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam. Dengan demikian, kita dapat menjadi lebih efektif dalam berpikir dan berkomunikasi tentang filsafat pendidikan Islam, serta mampu menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan cara yang logis dan sistematis.
Dalam sintesisnya, mempelajari mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam memberikan pelajaran berharga yang sangat luas dan mendalam kepada siapapun yang mempelajari nya. Kita tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang filsafat pendidikan Islam, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir, analisis, dan penelitian yang lebih efektif. Dengan demikian, kita dapat menjadi guru yang lebih berkarakter Islam dan mampu memberikan pendidikan yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Filsafat Pendidikan Islam juga dikatakan memiliki konsep yang paling ideal dibandingkan dengan sistem pendidikan lain, karena ia fokus pada pengembangan keseluruhan potensi manusia baik spiritual, intelektual, imajinasi, maupun aspek ilmiah. Konsep pendidikan Islam yang ideal ini didasarkan pada Al-Qur'an dan Hadis serta penekanan aspek keagamaan atau religiusitas yang berimplikasi pada nilai guna pada masyarakat, terutama dalam bidang tasawuf dan fiqih. Dalam konteks evaluasi pendidikan Islam yang ideal, Imam Al Ghazali menekankan pada seluruh aspek kehidupan mental, psikologi, dan spiritual- religius.
Pendidikan Islam yang ideal ini juga berupaya membentuk individu yang baik, bermoral, berkualitas, serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat. Dalam hal ini, pendidik yang ideal adalah pendidik yang berakhlak baik dan mulia serta peserta didik yang diwajibkan memuliakan seorang guru. Selain itu, pendidikan Islam yang ideal juga fokus pada pengembangan karakter kepribadian muslim melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera, serta mendorong aspek aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.
Namun...
Pendidikan Islam, dalam beberapa aspek, dapat dikatakan kurang maju jika dibandingkan dengan pendidikan barat.
Seperti :
- Pendidikan Islam kurang mampu mengintegrasikan kehidupan ukhrowi dengan kehidupan dunia, sehingga siswa pendidikan Islam kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang lebih luas dalam berbagai bidang.
- Pendidikan Islam kurang berkembang di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga siswa, tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan siswa pendidikan Barat.
- Pendidikan Islam kurang mampu menjamin terwujudnya tujuan pendidikan yang sesuai dengan konsep "insan kamil" karena kurangnya fokus pada pengembangan ilmu dan keterampilan.
Pendidikan Islam juga dapat dikatakan kurang maju karena kurangnya kesatuan dan persatuan antar umat Islam, serta kontak Islam dan barat yang menyebabkan perubahan dalam dunia Pendidikan Islam.
Zaini Dahlan berpendapat bahwa pendidikan Islam harus dibaharui agar memantik kemajuan Islam dan mengembalikan ajaran Islam yang terkikis, yang diakibatkan oleh tidak adanya lagi rasa memiliki dan pemikiran yang mengedepankan hakikat sesuatu dibandingkan dengan mengapa harus mengetahui sesuatu.
Dari semua yang sudah saya paparkan di atas termasuk dengan kurangnya kemajuan Pendidikan Islam dibandingkan Pendidikan Barat, saya mempunyai solusi untuk mengatasi hal tersebut yang merujuk pada pandangan beberapa tokoh Filsafat Pendidikan Islam sebagai inspirasi:
- Integrasi Ilmu dan Agama: Meningkatkan integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama Islam dalam proses belajar mengajar, seperti yang diusulkan oleh Abdullah Abd. Rahman dalam "Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam Rekonstruksi Pemikiran dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam" (2002). Dengan demikian, siswa dapat memahami ajaran Islam dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Pengembangan Keterampilan: Meningkatkan pengembangan keterampilan siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, analisis, dan komunikasi untuk mempersiapkan mereka dalam berbagai situasi kehidupan, seperti yang diusulkan oleh Azra, Azyumardi dalam "Pendidikan Tinggi Dalam Islam" (1994). Dengan demikian, siswa dapat memiliki kemampuan untuk menganalisis dan memahami kompleksitas konsep-konsep agama.
- Pengembangan Ilmu Pengetahuan: Meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan Islam, seperti yang diusulkan oleh Bakar, Osman dalam "Hierarki Ilmu Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al-Ghazali, Quthb Al-Din Al-Syirazi" (1997). Dengan demikian, siswa dapat memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan siswa pendidikan Barat.
- Pengembangan Karakter: Meningkatkan pengembangan karakter siswa, seperti kemampuan untuk menjalankan shalat, seperti yang diusulkan oleh Muhaimin dalam "Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan" (2003). Dengan demikian, siswa dapat memiliki kemampuan untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
- Pengembangan Keterampilan Beradaptasi: Meningkatkan pengembangan keterampilan beradaptasi siswa, seperti kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan situasi yang tidak terduga, seperti yang diusulkan oleh Abdullah Abd. Rahman dalam "Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam Rekonstruksi Pemikiran dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam" (2002). Dengan demikian, siswa dapat memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan situasi yang tidak terduga.
KH. Hasyim Asy'ari juga menawarkan beberapa solusi untuk memajukan pendidikan Islam.
- Pertama, beliau memprioritaskan pendidikan yang berbasis pada Al-Qur'an dan Hadits, serta mengintegrasikan ilmu agama dan non-agama dalam pendidikan. Dalam sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy'ari, kurikulum pendidikan Islam meliputi tiga aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu, nilai-nilai seperti teosentris, suka rela, kearifan, kesederhanaan, kebersamaan, dan restu pemimpin atau kiai juga harus dikembangkan dalam pengelolaan pendidikan Islam.
- Kedua, KH. Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya memahami ilmu agama dan non-agama secara komprehensif. Beliau berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang terpuji adalah ilmu-ilmu pelajaran agama dan berbagai macam ibadah, yang dapat mensucikan jiwa dan membantu mencapai ridla Allah. Ilmu-ilmu tersebut harus dipelajari secara mendalam dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga seseorang yang memiliki ilmu dituntut untuk berperilaku sopan dan terbentuk tatanan masyarakat yang harmonis dan beretika.
- Ketiga, KH. Hasyim Asy'ari juga menekankan pentingnya mengembangkan etika dalam pendidikan. Beliau berpendapat bahwa sebelum mempelajari materi lain, murid harus mempelajari empat kitab yang hukumnya fardhu 'ain, seperti kitab tentang Dzatullah, sifat-sifat Allah, Fiqh, dan kitab yang berkaitan dengan akhlak atau perilaku. Dengan demikian, murid dapat memiliki keyakinan dan pengetahuan yang mendalam tentang ilmu fardhu 'ain dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nah, solusi- solusi di atas dapat di terapkan dan dilaksanakan demi kemajuan Pendidikan Islam , para pelajar khususnya tenaga pendidik harus mengetahui akan hal itu dan sadar serta mengupayakan hal itu untuk memajukan Pendidikan Islam.
Di akhir tulisan ini..
Saya ingin mengingatkan bahwa filsafat pendidikan Islam bukan hanya teori yang dipelajari di kelas, tapi juga prinsip yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat pendidikan Islam harus menjadi bagian dari kehidupan seorang pendidik dan siswa, sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dan lebih berkontribusi pada masyarakat.
Saya berharap bahwa para pembaca dapat memahami pentingnya filsafat pendidikan Islam dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam, serta para pembaca nantinya dapat menjadi bagian dari gerakan untuk menerapkan filsafat pendidikan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih atas perhatian kalian dalam membaca tulisan ini. Semoga Allah menyertai Anda dalam perjalanan Anda untuk menjadi pendidik dan siswa yang lebih baik...
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Komentar
Posting Komentar